Jumat, 14 September 2012

LAPORAN KUNJUNGAN

Pendahuluan
Pada tanggal 23 April 2012, seluruh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi angkatan  2011 melakukan kunjungan ke beberapa tempat. Tempat yang menjadi tujuan kami adalah Lokananta Studio dan Monumen Pers Nasional. Lokananta Studio dipilih menjadi tujuan kami karena Lokananta merupakan museum terlengkap di Indonesia yang masih menyimpan berbagai macam koleksi dengan baik. Begitu pula dengan Monumen Pers Nasional, tempat ini dipilih menjadi objek studi kami karena tempat ini merupakan museum pers terengkap di Indonesia.
Kunjungan kali ini merupakan salah satu agenda rutin yang dilakukan oleh jurusan ilmu komunikasi UGM dan merupakan program dari mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media. Dalam melakukan kunjungan diharapkan mahasiswa dapat belajar sejarah media dengan cara melihat langsung benda-benda peninggalan yang terdapat di Museum-museum tersebut. Belajar dengan cara melihat langsung objek studi merupakan metode belajar efektif. Kita akan lebih mudah mempelajari sejarah dibandingkan dengan membaca sebuah buku.
Dengan adanya kunjungan ini, kami mahasiswa komunikasi menjadi lebih tahu mengenai sejarah media dan pers di Indonesia. Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh dari kunjungan ini, semoga kunjungan ini menjadi agenda rutin jurusan ilmu komunikasi.
1.      Lokananta Studio
    
A.        Sejarah Lokananta Studio
Lokananta studio adalah perusahaan rekaman yang pernah jaya pada tahun 70-80an. Lokananta berlokasi di Jalan Achmad Yani 387, Solo. Lokananta diprakarsai oleh dua orang pegawai Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. Mereka mendirikan pabrik piringan hitam itu pada 1950. Enam tahun kemudian, usaha kedua pegawai RRI ini dilirik oleh pemerintah. Pada 29 Oktober 1956, secara resmi berdirilah Lokananta. Nama resminya sendiri adalah Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Djawatan Radio Kementrian Penerangan RI. Diresmikan secara langsung oleh Mentri Penerangan Soedibyo.
Nama Lokananta digagas oleh musisi legendaris R. Maladi, pencipta lagu Di Bawah Sinar Bulan Purnama. Lokananta mempunyai arti gamelan kahyangan yang berbunyi amat merdu tanpa ada yang menabuhnya. Di awal pendiriannya, Lokananta mengemban dua tugas, yaitu merekam dan memproduksi (menggandakan) piringan hitam untuk bahan siaran 27 studio RRI di seluruh Indonesia. Dua tahun kemudian, Lokananta diperbolehkan menjual piringan hitam produksinya untuk umum melalui Pusat Koperasi Angkasawan RRI (Pusat) Jakarta. Semua piringan hitam itu berlabel Lokananta.
Pada tahun 1961, Lokananta berubah status menjadi perusahaan negara berdasarkan PP nomor 215 tahun 1961. Saat itu Lokananta mulai memperluas bidang garapannya dengan memproduksi fonogram. Setelah itu usaha-usaha Lokananta terus meningkat hingga memasuki dekade 70-an, masa di mana Lokananta semakin eksis.
Sejak tahun 1971, Lokananta berhenti memproduksi piringan hitam dan mulai beralih pada rekaman pita suara magnetik atau dalam bentuk audio cassete. Lokananta semakin menguasai pasar nasional dan menjadi perusahaan label milik pemerintah yang legendaris.
Banyak musisi-musisi yang pernah mencoba rekaman disini. Musisi keroncong kenamaan Gesang Martohartono tercatat pernah merekam dan memasarkan karya-karyanya melalui label Lokananta. Selain Gesang, masih banyak lagi penyanyi-penyanyi legendaris yang “lahir” dari Lokananta. Seperti Titik Puspa, Waldjinah, Idris Sardi, Nana Kirana, Soendari Soekotjo, Gumarang, Nenny Triana, orkes-orkes RRI dari berbagai kota, dan masih banyak lagi. Hingga kini master rekaman mereka masih tersimpan baik disini.
Pada tahun 1983, status Lokananta kembali berubah. Yang awalnya perusahaan negara menjadi BUMN di lingkungan Departemen Penerangan. Lokananta kala itu semakin berkembang dengan mengadakan unit penggandaan film dalam format video cassete (Betamax dan VHS). Namun memasuki dekade 90-an, Lokananta berangsur-angsur turun pamor. Kejayaannya semakin menurun, diakibatkan oleh banyaknya perusahaan rekaman yang lahir. Selain itu, Lokananta juga harus bertarung melawan pembajakan yang semakin marak.
B.        Koleksi Berharga Lokananta
Selain sebagai perusahaan label milik pemerintah, Lokananta merupakan tempat penyimpanan arsip-arsip kebudayaan terlengkap di Indonesia. Semuanya tersimpan dalam format piringan hitam dan kaset. Ada sekitar 40.000 keping piringan hitam yang merekam lagu-lagu daerah, lagu hiburan (pop), keroncong, wayang, gending Jawa, lagu Bali, Sunda, Batak, hingga pidato kenegaraan oleh Presiden Soekarno dan beberapa kepala negara asing yang berkunjung ke Indonesia. Semua koleksi ini tersimpan dalam ruangan khusus di kompleks Lokananta.
Sebanyak 5.000 lagu daerah dari seluruh Indonesia berhasil dikumpulkan oleh Lokananta. Hal ini merupakan salah satu usaha Lokananta dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia. Banyak manfaat yang diperoleh jika bangsa indonesia mempunyai master dari lagu-lagu daerah yang ada di indonesia. Sebagai contoh lagu Rasa Sayange yang berasal dari Maluku. Beberapa waktu lalu, lagu ini diklaim oleh Malaysia. Dengan adanya master lagu Rasa Sayange di Lokananta. Kita sebagai bangsa Indonesia dapat meyakinkan kepada dunia bahwa lagu tersebut adalah lagu daerah milik bangsa Indonesia.
Museum ini memiliki Piringan Hitam yang berjumlah sekitar 75.000 keping, yang di dalamnya terdapat rekaman-rekaman master para empu budaya. Master PH tersebut terdiri dari berbagai kesenian etnis di Indonesia. Jika tidak dijaga dengan baik, anak cucu kita tidak akan bisa menikmati, menyaksikan, mendengarkan kesenian yang pernah ada di Indonesia.
 
Koleksi lain yang dimiliki Lokananta adalah master rekaman lagu-lagu pop, keroncong, gending Jawa, dan wayang. Semuanya berupa terekam dalam pita reel yang disimpan dalam lemari besi di ruangan khusus. Pada sebuah ruangan yang kini difungsikan sebagai sebuah museum, Lokananta menyimpan koleksi perangkat mesin rekaman yang digunakan sepanjang tahun 1950 hingga 1980-an. Semua mesin rekaman itu adalah produksi Jerman bermerek Studer. Ada pula mikrofon buatan Jerman bermerek Neumann yang merupakan mikrofon terbaik di zamannya.
Lokananta mempunyai studio rekaman yang cukup besar dan masih beroperasi hingga sekarang. Studio ini di-design sedemikian rupa sehingga ruangan ini menjadi kedap suara. Studio ini dahulu kondisinya amat memprihatinkan, Namun sekarang studio ini sudah direnovasi sehingga menjadi studio yang apik. Hal yang menjadikan studio ini istimewa adalah studio ini berdiri diatas tanah pasir sehingga hasil rekaman yang dihasilkan kualitasnya akan lebih baik.
Banyak masyarakat sekitar solo menggunakan studio ini untuk rekaman. Baik komunitas keroncong, gendhing, maupun band memanfaatkan studio ini untuk rekaman. Bahkan artis-artis papan atas pernah rekaman disini. Seperti Glenn Fredly dan Afgan. Pengurus museum menjelaskan bahwa Afgan pernah berkata bahwa dirinya ingin sekali memiliki studio seperti Lokananta. Bahkan Dia rela tidak mempunyai rumah asalkan mempunyai studio seperti Lokananta.
    
                                    Museum Lokananta mempunyai banyak koleksi yang sangat berharga. Bahkan jika ditotal aset Lokananta bisa mencapai Triliunan rupiah. Hal tersebut realistis, karena museum tersebut berisi banyak koleksi-koleksi barang antik yang tidak bisa ditemukan di sembarang tempat.
C.        Kondisi Lokananta Sekarang
Lokananta Studio merupakan perusahaan rekaman yang pernah berjaya pada tahun 70-an. Sekarang, Lokananta harus berusaha keras demi menghidupi karyawannya. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya bantuan dana dari pemerintah. Pemerintah seolah tidak peduli akan kelangsungan hidup Museum Lokananta ini. Banyak ruang-ruang di Museum ini yang kurang terurus dengan baik. Pihak pengelola museum tidak merenovasi ruang-ruang tersebut karena keterbatasan biaya.
                        Untuk membiayai biaya operasioal Museum Lokananta, pihak pengelola memanfaatkan salah satu gedung yang tidak terpakai untuk dijadikan tempat futsal. Selain itu, Lokananta juga menyewakan studio untuk dipakai rekaman oleh masyarakat. Dari beberapa usaha tersebut, Lokananta mendapatkan pemasukan dana yang kemudian akan digunakan untuk membiayai biaya operasional Museum. Seperti gaji karyawan, biaya perawatan gedung, uang listrik, biaya perawatan barang koleksi, dan lain-lain.
                                    Sungguh mengenaskan memang, Aset negara yang sangat berharga akan tetapi tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Mungkin saat ini keberadaan museum tidak terlalu penting bagi pemerintah. Akan tetapi, jika pada suatu saat ada negara lain yang meng-klaim salah satu budaya kita, Museum ini keberadaanya akan sangat dibutuhkan sebagai bukti bahwa budaya yang di-klaim oleh negara lain adalah budaya milik bangsa Indonesia. Karena museum ini menyimpan berbagai arsip-arsip budaya Indonesia.
2.         Monumen Pers Nasional
            A.        Sejarah Monumen Pers Nasional
                                    Gedung Monumen Pers Nasional awalnya bernama Socitet Sasana Suka yang merupakan sebuah gedung Balai Pertemuan Kerabat Mangkunegaran yang dibangun pada tahun 1918 oleh KGPAA Sri Mangkunegaoro VII yang dirancang oleh seorang arsitek Jawa benama Mas Abu Kasan Atmodirono.
Gedung yang sarat dengan sejarah ini sangat cocok untuk wisata edukasi, sebab di tempat ini menyimpan lebih dari satu juta eksemplar sampel media cetak yang terbit dari seluruh Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda hingga saat ini.  Seluruh media cetak tersebut didokumentasikan, dikonservasi, dan disajikan kepada pengunjung di Monumen Pers Nasional. Beberapa jenis Koran dan majalah kuno yang cukup menarik dan tersimpan di sini antara lain Cahaya Hindia (1913), Panorama (1917), Soeloeh Ra’jat Indonesia (1932), Fikiran Ra’jat, Djawa Baroe (1944), dan Skets Masa (1966). Selain koleksi media cetak, di Monumen Pers Nasional juga terdapat sebuah museum pers. Berbagai benda bersejarah berkait dengan pers Indonesia disimpan ditempat ini.
B. Koleksi-koleksi Monumen Pers Nasional
            a. Patung perintis pers Indonesia
              
            b. Mesin ketik tokoh pers
Mesin Ketik Kuno merk Underwood dibuat sekitar tahun 1920-1927. Mesin ketik ini milik Bakrie Soeriatmadja, salah seorang perintis pers indonesia.
                        c. Mesin hitung kuno
Mesin hitung ini bermerk Underwood Sundstand, buatan USA dengan model 8100, dibuat pada tahun 1930-1960. Mesin ini masih bersifat manual dengan kapasitas inputnya 8 x 0 x 8.
d. Portable Mixer
Portable mixer yang ada di Monumen Pers Nasional digunakan untuk siaran dari istana dan tempat-tempat lain antara tahun 1949-1966.
e. Video Tape rekaman gerhana matahari total tahun 1983
   Di Monumen pers nasional terdapat video gerhana matahari total yang terjadi pada tanggal 11 Juni 1983. TVRI mengerahkan 18 buah kamera untuk meliput fenomena alam ini, salah satunya adalah liputan oleh Trisno Yuwono di Tanjung Kodok
f. Pemancar radio kambing
  Pemancar radio ini dinamakan pemancar radio kambing karena pada saat itu pemancar ini disembunyikan di dekat kandang kambing untuk menghindari serangan pasukan musuh.
g. Plat cetakan perdana koran kedaulatan rakyat
   
                        h. Peralatan terjun payung Trisno Yuwono
                                    Peralatan terjun payung yang ada di Monumen Pers Nasional adalah peralatan yang digunakan oleh Trisno Yuwono pada saat meliput peristiwa gerhana matahari total pada tahun 1983 di Tanjung Kodok.
                        i. Microfilm
Microfilm yang ada di Monumen Pers Nasional merupakan sumbangan dari Wakil presiden Adam Malik untuk Monumen Pers Nasional pada tahun 1980.
j. Kenthongan Kyai Swara Gugah
                          
                        k. Baju wartawan Hendro Subroto
Hendro Subroto adalah seorang wartawan senior TVRI yang bertugas meliput integrasi Timor-Timur ke Indonesia pada tahun 1975. Saat memakai baju ini di bulan November ketika meliput serangan di Kabupaten Bobonaro, dia tertembak di dada kanan atas dan peluru menyerempet pipi kanannya. Walaupun demikian, Hendro selamat dari maut.
l. Diorama perkembangan pers Indonesia
                          
        Diorama ini menceritakan sejarah perkembangan pers dan informasi di Indonesia. Ada enam episode yang dipajang di ruang Pamer Permanent Monumen Pers Nasional.
Diorama pertama menggambarkan penyampaian berita pada jaman pra sejarah hingga kerajaan di Indonesia. Pada jaman Nabi Nuh AS, berita tentang surutnya banjir dibawa oleh seekor burung. Manusia purba menulis berita dalam gua. Pada jaman Romawi yang bertugas mengumpulkan informasi adalah para budak.
Diorama kedua menggambarkan pers pada jaman penjajahan Belanda. Tahun 1615 atas perintah Jan Pieterzoon Coen diterbitkan Memories der Nouvelles yang ditulis tangan dan merupakan surat kabar pertama di Indonesia. Sedangkan koran pertama yang terbit pertama di masa penjajahan belanda adalah Bataviasche Nouvelles pada tanggal 7 Agustus 1744.
        Diorama ketiga menggambarkan pers pada jaman penjajahan jepang, Pers saat itu dalam tekanan Jepang. Radio pada saat itu radio disegel oleh jepang dan hanya bisa mendengarkan siaran dari pemerintah Jepang.
        Diorama keempat menggambarkan perkembangan pers di Indonesia pada awal kemerdekaan. Beberapa hari setelah kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, terjadilah perebutan kekuasaan di berbagai bidang, termasuk pers. Koran yang terbit mengutamakan berita sekitar Indonesia merdeka.
                                    Diorama kelima menggambarkan perkembangan pes di masa Orde Baru. Pemerintah membatasi ruang gerak pers dengan mewajibkan memiliki SIT (Surat Izin Terbit), SIC (Surat Izin Cetak), dan SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Pers dapat dibredel sewaktu-waktu jika ada pers yang ketahuan mengkritik pemerintah.
        Diorama keenam menggambarkan perkembangan pada masa reformasi yang menjungjung tinggi kebebasan. Ciri pers pada masa ini adalah keberanian untuk mengkritik pemerintah.
m. Macam-macam koleksi surat kabar lawas
    
     Djawa Baroe merupakan salah satu koran proppaganda Jepang.
            C. Kontribusi Monumen Pers Nasional bagi Masyarakat
        Monumen Pers Nasional merupakan salah satu museum yang banyak berkontribusi pada masyarakat sekitar. Museum ini menyediakan berbagai fasilitas gratis bagi masyarakat. Seperti Media Center, Media Center Monumen Pers Nasional mempunyai sembilan PC, dilengkapi dengan printer dan scanner. Ruangannya pun ber-AC, sehingga para pengguna layanan ini merasa nyaman. Media Center ini bisa dinikmati oleh siapa saja, baik mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum. Media Center ini dibuka sesuai jam kerja, sedangkan wifi bisa dinikmati selama 24 jam nonstop.
                        Kontribusi lain yang dilakukan oleh Monumen Pers Nasional adalah memasang papan baca di halaman Museum. Papan baca ini berisi tabloid komunika, surat kabar Solo Pos, dan Suara Merdeka. Papan baca disediakan oleh pihak pengelola bertujuan untuk memberikan informasi secara gratis bagi para pengunjungnya. Orang yang membaca Papan Baca tersebut tersebut biasa dinikmati oleh para mahasiswa, pejalan kaki, supir taksi, supir  becak, bahkan pemulung.
                
                        Selain itu, Monumen Pers Nasional juga mempunyai Perpustakan yang berisi sekitar 12.000 eksemplar. Perpustakaan ini dilengkapi dengan katalog online sehingga memudahkan dalam pencarian buku. Perpustakaan ini buka setiap hari Senin sampai Jumat sesuai jam kerja
                        Salah satu tugas Monumen Pers Nasional adalah pendokumentasian berbagai koleksi media cetak yang pernah terbit di Indonesia. Yaitu media cetak yang terbit sebelum kemerdekaan hingga kini. Banyak koleksi media cetak tersimpan disini yang kondisinya memprihatinkan. Terutama media cetak yang terbit sebelum kemerdekaan. Untuk menjaga keutuhan media cetak tersebut, pihak pengelola melakukan digitalisasi. Hal tersebut dilakukan bertujuan untuk berjaga-jaga jika pada suatu saat sumber aslinya rusak. Dengan adanya proses digitalisasi, pengunjung dapat menikmati media cetak yang terbit pada masa lalu melalui komputer yang sudah disediakan.
                        Untuk melindungi media cetak dari serangan jamur dan rayap, pengelola menggunakan kamper yang dihancurkan, kemudian ditaburkan ke media cetak. Cara ini dipakai karena perawatan dengan kamper biayanya relatif lebih murah dibanding dengan menggunakan anti jamur.
                        Monumen Pers Nasional mempunyai lebih dari satu juta eksemplar media cetak. Hal ini merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa, peneliti, pelajar, dan masyarakat luas.
                 Penutup
                         Lokanananta Studio dan Monumen Pers Nasional adalah salah satu tempat sejarah yang harus kita lestarikan bersama. Tempat tersebut menyediakan berbagai peninggalan sejarah. Tidak hanya pemerintah, kita juga wajib untuk ikut serta dalam usaha melestarikan sejarah. Kita harus menjaga agar anak cucu kita dapat menikmati berbagai macam peninggalan sejarah.
                        Kunjungan  kali ini adalah salah satu kunjungan yang cukup berbeda. Selain berekreasi kita juga belajar hal-hal baru. Kita bisa menambah wawasan, menghilangkan penat, dan menambah keakraban bersama teman-teman. Perjalanan kali ini sungguh memuaskan. Semoga tahun depan diadakan kunjungan ke tempat lain yang tidak kalah bagusnya dengan kedua tempat tersebut.


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar