Pendahuluan
Pada
tanggal 23 April 2012, seluruh mahasiswa jurusan ilmu komunikasi angkatan 2011 melakukan kunjungan ke beberapa tempat.
Tempat yang menjadi tujuan kami adalah Lokananta Studio dan Monumen Pers
Nasional. Lokananta Studio dipilih menjadi tujuan kami karena Lokananta
merupakan museum terlengkap di Indonesia yang masih menyimpan berbagai macam
koleksi dengan baik. Begitu pula dengan Monumen Pers Nasional, tempat ini
dipilih menjadi objek studi kami karena tempat ini merupakan museum pers
terengkap di Indonesia.
Kunjungan
kali ini merupakan salah satu agenda rutin yang dilakukan oleh jurusan ilmu
komunikasi UGM dan merupakan program dari mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi
dan Media. Dalam melakukan kunjungan diharapkan mahasiswa dapat belajar sejarah
media dengan cara melihat langsung benda-benda peninggalan yang terdapat di
Museum-museum tersebut. Belajar dengan cara melihat langsung objek studi
merupakan metode belajar efektif. Kita akan lebih mudah mempelajari sejarah
dibandingkan dengan membaca sebuah buku.
Dengan
adanya kunjungan ini, kami mahasiswa komunikasi menjadi lebih tahu mengenai
sejarah media dan pers di Indonesia. Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh
dari kunjungan ini, semoga kunjungan ini menjadi agenda rutin jurusan ilmu
komunikasi.
1. Lokananta Studio
A. Sejarah Lokananta Studio
Lokananta
studio adalah perusahaan rekaman yang pernah jaya pada tahun 70-80an. Lokananta
berlokasi di Jalan Achmad Yani 387, Solo. Lokananta diprakarsai oleh dua orang
pegawai Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, Oetojo Soemowidjojo dan Raden
Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. Mereka mendirikan pabrik piringan hitam itu pada
1950. Enam tahun kemudian, usaha kedua pegawai RRI ini dilirik oleh pemerintah.
Pada 29 Oktober 1956, secara resmi berdirilah Lokananta. Nama resminya sendiri
adalah Pabrik Piringan Hitam Lokananta, Djawatan Radio Kementrian Penerangan
RI. Diresmikan secara langsung oleh Mentri Penerangan Soedibyo.
Nama
Lokananta digagas oleh musisi legendaris R. Maladi, pencipta lagu Di Bawah
Sinar Bulan Purnama. Lokananta mempunyai arti gamelan kahyangan yang berbunyi
amat merdu tanpa ada yang menabuhnya. Di awal pendiriannya, Lokananta mengemban
dua tugas, yaitu merekam dan memproduksi (menggandakan) piringan hitam untuk
bahan siaran 27 studio RRI di seluruh Indonesia. Dua tahun kemudian, Lokananta
diperbolehkan menjual piringan hitam produksinya untuk umum melalui Pusat
Koperasi Angkasawan RRI (Pusat) Jakarta. Semua piringan hitam itu berlabel
Lokananta.
Pada
tahun 1961, Lokananta berubah status menjadi perusahaan negara berdasarkan PP
nomor 215 tahun 1961. Saat itu Lokananta mulai memperluas bidang garapannya
dengan memproduksi fonogram. Setelah itu usaha-usaha Lokananta terus meningkat
hingga memasuki dekade 70-an, masa di mana Lokananta semakin eksis.
Sejak
tahun 1971, Lokananta berhenti memproduksi piringan hitam dan mulai beralih
pada rekaman pita suara magnetik atau dalam bentuk audio cassete. Lokananta semakin menguasai pasar nasional dan
menjadi perusahaan label milik pemerintah yang legendaris.
Banyak
musisi-musisi yang pernah mencoba rekaman disini. Musisi keroncong kenamaan
Gesang Martohartono tercatat pernah merekam dan memasarkan karya-karyanya
melalui label Lokananta. Selain Gesang, masih banyak lagi penyanyi-penyanyi
legendaris yang “lahir” dari Lokananta. Seperti Titik Puspa, Waldjinah, Idris
Sardi, Nana Kirana, Soendari Soekotjo, Gumarang, Nenny Triana, orkes-orkes RRI
dari berbagai kota, dan masih banyak lagi. Hingga kini master rekaman mereka
masih tersimpan baik disini.
Pada
tahun 1983, status Lokananta kembali berubah. Yang awalnya perusahaan negara
menjadi BUMN di lingkungan Departemen Penerangan. Lokananta kala itu semakin
berkembang dengan mengadakan unit penggandaan film dalam format video cassete
(Betamax dan VHS). Namun memasuki dekade 90-an, Lokananta berangsur-angsur
turun pamor. Kejayaannya semakin menurun, diakibatkan oleh banyaknya perusahaan
rekaman yang lahir. Selain itu, Lokananta juga harus bertarung melawan
pembajakan yang semakin marak.
B. Koleksi Berharga Lokananta
Selain
sebagai perusahaan label milik pemerintah, Lokananta merupakan tempat
penyimpanan arsip-arsip kebudayaan terlengkap di Indonesia. Semuanya tersimpan
dalam format piringan hitam dan kaset. Ada sekitar 40.000 keping piringan hitam
yang merekam lagu-lagu daerah, lagu hiburan (pop), keroncong, wayang, gending
Jawa, lagu Bali, Sunda, Batak, hingga pidato kenegaraan oleh Presiden Soekarno
dan beberapa kepala negara asing yang berkunjung ke Indonesia. Semua koleksi
ini tersimpan dalam ruangan khusus di kompleks Lokananta.
Sebanyak
5.000 lagu daerah dari seluruh Indonesia berhasil dikumpulkan oleh Lokananta. Hal
ini merupakan salah satu usaha Lokananta dalam melestarikan kebudayaan yang ada
di Indonesia. Banyak manfaat yang diperoleh jika bangsa indonesia mempunyai
master dari lagu-lagu daerah yang ada di indonesia. Sebagai contoh lagu Rasa
Sayange yang berasal dari Maluku. Beberapa waktu lalu, lagu ini diklaim oleh
Malaysia. Dengan adanya master lagu Rasa Sayange di Lokananta. Kita sebagai
bangsa Indonesia dapat meyakinkan kepada dunia bahwa lagu tersebut adalah lagu
daerah milik bangsa Indonesia.
Museum
ini memiliki Piringan Hitam yang berjumlah sekitar 75.000 keping, yang di
dalamnya terdapat rekaman-rekaman master para empu budaya. Master PH tersebut
terdiri dari berbagai kesenian etnis di Indonesia. Jika tidak dijaga dengan
baik, anak cucu kita tidak akan bisa menikmati, menyaksikan, mendengarkan
kesenian yang pernah ada di Indonesia.
Koleksi
lain yang dimiliki Lokananta adalah master rekaman lagu-lagu pop, keroncong,
gending Jawa, dan wayang. Semuanya berupa terekam dalam pita reel yang disimpan
dalam lemari besi di ruangan khusus. Pada sebuah ruangan yang kini difungsikan
sebagai sebuah museum, Lokananta menyimpan koleksi perangkat mesin rekaman yang
digunakan sepanjang tahun 1950 hingga 1980-an. Semua mesin rekaman itu adalah
produksi Jerman bermerek Studer. Ada pula mikrofon buatan Jerman bermerek
Neumann yang merupakan mikrofon terbaik di zamannya.
Lokananta
mempunyai studio rekaman yang cukup besar dan masih beroperasi hingga sekarang.
Studio ini di-design sedemikian rupa
sehingga ruangan ini menjadi kedap suara. Studio ini dahulu kondisinya amat
memprihatinkan, Namun sekarang studio ini sudah direnovasi sehingga menjadi
studio yang apik. Hal yang menjadikan
studio ini istimewa adalah studio ini berdiri diatas tanah pasir sehingga hasil
rekaman yang dihasilkan kualitasnya akan lebih baik.
Banyak
masyarakat sekitar solo menggunakan studio ini untuk rekaman. Baik komunitas
keroncong, gendhing, maupun band memanfaatkan studio ini untuk rekaman. Bahkan
artis-artis papan atas pernah rekaman disini. Seperti Glenn Fredly dan Afgan.
Pengurus museum menjelaskan bahwa Afgan pernah berkata bahwa dirinya ingin
sekali memiliki studio seperti Lokananta. Bahkan Dia rela tidak mempunyai rumah
asalkan mempunyai studio seperti Lokananta.
Museum
Lokananta mempunyai banyak koleksi yang sangat berharga. Bahkan jika ditotal
aset Lokananta bisa mencapai Triliunan rupiah. Hal tersebut realistis, karena
museum tersebut berisi banyak koleksi-koleksi barang antik yang tidak bisa
ditemukan di sembarang tempat.
C. Kondisi Lokananta Sekarang
Lokananta
Studio merupakan perusahaan rekaman yang pernah berjaya pada tahun 70-an.
Sekarang, Lokananta harus berusaha keras demi menghidupi karyawannya. Hal
tersebut disebabkan oleh tidak adanya bantuan dana dari pemerintah. Pemerintah
seolah tidak peduli akan kelangsungan hidup Museum Lokananta ini. Banyak
ruang-ruang di Museum ini yang kurang terurus dengan baik. Pihak pengelola
museum tidak merenovasi ruang-ruang tersebut karena keterbatasan biaya.
Untuk
membiayai biaya operasioal Museum Lokananta, pihak pengelola memanfaatkan salah
satu gedung yang tidak terpakai untuk dijadikan tempat futsal. Selain itu,
Lokananta juga menyewakan studio untuk dipakai rekaman oleh masyarakat. Dari
beberapa usaha tersebut, Lokananta mendapatkan pemasukan dana yang kemudian
akan digunakan untuk membiayai biaya operasional Museum. Seperti gaji karyawan,
biaya perawatan gedung, uang listrik, biaya perawatan barang koleksi, dan
lain-lain.
Sungguh
mengenaskan memang, Aset negara yang sangat berharga akan tetapi tidak mendapat
perhatian dari pemerintah. Mungkin saat ini keberadaan museum tidak terlalu
penting bagi pemerintah. Akan tetapi, jika pada suatu saat ada negara lain yang
meng-klaim salah satu budaya kita,
Museum ini keberadaanya akan sangat dibutuhkan sebagai bukti bahwa budaya yang
di-klaim oleh negara lain adalah
budaya milik bangsa Indonesia. Karena museum ini menyimpan berbagai arsip-arsip
budaya Indonesia.
2. Monumen Pers Nasional
A. Sejarah
Monumen Pers Nasional
Gedung
Monumen Pers Nasional awalnya bernama Socitet Sasana Suka yang merupakan sebuah
gedung Balai Pertemuan Kerabat Mangkunegaran yang dibangun pada tahun 1918 oleh
KGPAA Sri Mangkunegaoro VII yang dirancang oleh seorang arsitek Jawa benama Mas
Abu Kasan Atmodirono.
Gedung
yang sarat dengan sejarah ini sangat cocok untuk wisata edukasi, sebab di
tempat ini menyimpan lebih dari satu juta eksemplar sampel media cetak yang
terbit dari seluruh Indonesia sejak jaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Seluruh media cetak tersebut didokumentasikan,
dikonservasi, dan disajikan kepada pengunjung di Monumen Pers Nasional.
Beberapa jenis Koran dan majalah kuno yang cukup menarik dan tersimpan di sini
antara lain Cahaya Hindia (1913), Panorama (1917), Soeloeh Ra’jat Indonesia
(1932), Fikiran Ra’jat, Djawa Baroe (1944), dan Skets Masa (1966). Selain
koleksi media cetak, di Monumen Pers Nasional juga terdapat sebuah museum pers.
Berbagai benda bersejarah berkait dengan pers Indonesia disimpan ditempat ini.
B.
Koleksi-koleksi Monumen Pers Nasional
a. Patung perintis pers Indonesia
b. Mesin ketik tokoh pers
Mesin
Ketik Kuno merk Underwood dibuat sekitar tahun 1920-1927. Mesin ketik ini milik
Bakrie Soeriatmadja, salah seorang perintis pers indonesia.
c. Mesin hitung kuno
Mesin
hitung ini bermerk Underwood Sundstand, buatan USA dengan model 8100, dibuat
pada tahun 1930-1960. Mesin ini masih bersifat manual dengan kapasitas inputnya
8 x 0 x 8.
d.
Portable Mixer
Portable
mixer yang ada di Monumen Pers Nasional digunakan untuk siaran dari istana dan
tempat-tempat lain antara tahun 1949-1966.
e.
Video Tape rekaman gerhana matahari total tahun 1983
Di Monumen pers nasional terdapat video
gerhana matahari total yang terjadi pada tanggal 11 Juni 1983. TVRI mengerahkan
18 buah kamera untuk meliput fenomena alam ini, salah satunya adalah liputan
oleh Trisno Yuwono di Tanjung Kodok
f.
Pemancar radio kambing
Pemancar radio ini dinamakan pemancar radio
kambing karena pada saat itu pemancar ini disembunyikan di dekat kandang
kambing untuk menghindari serangan pasukan musuh.
g.
Plat cetakan perdana koran kedaulatan rakyat
h. Peralatan terjun payung Trisno Yuwono
Peralatan
terjun payung yang ada di Monumen Pers Nasional adalah peralatan yang digunakan
oleh Trisno Yuwono pada saat meliput peristiwa gerhana matahari total pada
tahun 1983 di Tanjung Kodok.
i.
Microfilm
Microfilm
yang ada di Monumen Pers Nasional merupakan sumbangan dari Wakil presiden Adam
Malik untuk Monumen Pers Nasional pada tahun 1980.
j.
Kenthongan Kyai Swara Gugah
k. Baju wartawan Hendro Subroto
Hendro
Subroto adalah seorang wartawan senior TVRI yang bertugas meliput integrasi
Timor-Timur ke Indonesia pada tahun 1975. Saat memakai baju ini di bulan
November ketika meliput serangan di Kabupaten Bobonaro, dia tertembak di dada
kanan atas dan peluru menyerempet pipi kanannya. Walaupun demikian, Hendro
selamat dari maut.
l.
Diorama perkembangan pers Indonesia
Diorama ini menceritakan sejarah
perkembangan pers dan informasi di Indonesia. Ada enam episode yang dipajang di
ruang Pamer Permanent Monumen Pers Nasional.
Diorama
pertama menggambarkan penyampaian berita pada jaman pra sejarah hingga kerajaan
di Indonesia. Pada jaman Nabi Nuh AS, berita tentang surutnya banjir dibawa
oleh seekor burung. Manusia purba menulis berita dalam gua. Pada jaman Romawi
yang bertugas mengumpulkan informasi adalah para budak.
Diorama
kedua menggambarkan pers pada jaman penjajahan Belanda. Tahun 1615 atas
perintah Jan Pieterzoon Coen diterbitkan Memories der Nouvelles yang ditulis
tangan dan merupakan surat kabar pertama di Indonesia. Sedangkan koran pertama
yang terbit pertama di masa penjajahan belanda adalah Bataviasche Nouvelles
pada tanggal 7 Agustus 1744.
Diorama ketiga menggambarkan pers pada
jaman penjajahan jepang, Pers saat itu dalam tekanan Jepang. Radio pada saat
itu radio disegel oleh jepang dan hanya bisa mendengarkan siaran dari
pemerintah Jepang.
Diorama keempat menggambarkan
perkembangan pers di Indonesia pada awal kemerdekaan. Beberapa hari setelah
kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, terjadilah perebutan kekuasaan di
berbagai bidang, termasuk pers. Koran yang terbit mengutamakan berita sekitar
Indonesia merdeka.
Diorama
kelima menggambarkan perkembangan pes di masa Orde Baru. Pemerintah membatasi
ruang gerak pers dengan mewajibkan memiliki SIT (Surat Izin Terbit), SIC (Surat
Izin Cetak), dan SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Pers dapat dibredel
sewaktu-waktu jika ada pers yang ketahuan mengkritik pemerintah.
Diorama keenam menggambarkan
perkembangan pada masa reformasi yang menjungjung tinggi kebebasan. Ciri pers
pada masa ini adalah keberanian untuk mengkritik pemerintah.
m.
Macam-macam koleksi surat kabar lawas
Djawa Baroe merupakan salah satu koran
proppaganda Jepang.
C. Kontribusi Monumen Pers Nasional bagi Masyarakat
Monumen Pers Nasional merupakan salah
satu museum yang banyak berkontribusi pada masyarakat sekitar. Museum ini
menyediakan berbagai fasilitas gratis bagi masyarakat. Seperti Media Center,
Media Center Monumen Pers Nasional mempunyai sembilan PC, dilengkapi dengan
printer dan scanner. Ruangannya pun ber-AC,
sehingga para pengguna layanan ini merasa nyaman. Media Center ini bisa
dinikmati oleh siapa saja, baik mahasiswa, pelajar, maupun masyarakat umum.
Media Center ini dibuka sesuai jam kerja, sedangkan wifi bisa dinikmati selama 24 jam nonstop.
Kontribusi lain yang
dilakukan oleh Monumen Pers Nasional adalah memasang papan baca di halaman
Museum. Papan baca ini berisi tabloid komunika, surat kabar Solo Pos, dan Suara
Merdeka. Papan baca disediakan oleh pihak pengelola bertujuan untuk memberikan
informasi secara gratis bagi para pengunjungnya. Orang yang membaca Papan Baca
tersebut tersebut biasa dinikmati oleh para mahasiswa, pejalan kaki, supir
taksi, supir becak, bahkan pemulung.
Selain itu, Monumen Pers
Nasional juga mempunyai Perpustakan yang berisi sekitar 12.000 eksemplar.
Perpustakaan ini dilengkapi dengan katalog online sehingga memudahkan dalam
pencarian buku. Perpustakaan ini buka setiap hari Senin sampai Jumat sesuai jam
kerja
Salah satu tugas Monumen
Pers Nasional adalah pendokumentasian berbagai koleksi media cetak yang pernah
terbit di Indonesia. Yaitu media cetak yang terbit sebelum kemerdekaan hingga
kini. Banyak koleksi media cetak tersimpan disini yang kondisinya memprihatinkan.
Terutama media cetak yang terbit sebelum kemerdekaan. Untuk menjaga keutuhan
media cetak tersebut, pihak pengelola melakukan digitalisasi. Hal tersebut
dilakukan bertujuan untuk berjaga-jaga jika pada suatu saat sumber aslinya
rusak. Dengan adanya proses digitalisasi, pengunjung dapat menikmati media
cetak yang terbit pada masa lalu melalui komputer yang sudah disediakan.
Untuk melindungi media
cetak dari serangan jamur dan rayap, pengelola menggunakan kamper yang
dihancurkan, kemudian ditaburkan ke media cetak. Cara ini dipakai karena
perawatan dengan kamper biayanya relatif lebih murah dibanding dengan
menggunakan anti jamur.
Monumen Pers Nasional
mempunyai lebih dari satu juta eksemplar media cetak. Hal ini merupakan salah
satu daya tarik tersendiri bagi para mahasiswa, peneliti, pelajar, dan
masyarakat luas.
Penutup
Lokanananta Studio dan Monumen Pers Nasional adalah salah
satu tempat sejarah yang harus kita lestarikan bersama. Tempat tersebut
menyediakan berbagai peninggalan sejarah. Tidak hanya pemerintah, kita juga
wajib untuk ikut serta dalam usaha melestarikan sejarah. Kita harus menjaga agar
anak cucu kita dapat menikmati berbagai macam peninggalan sejarah.
Kunjungan kali ini adalah salah satu kunjungan yang
cukup berbeda. Selain berekreasi kita juga belajar hal-hal baru. Kita bisa
menambah wawasan, menghilangkan penat, dan menambah keakraban bersama
teman-teman. Perjalanan kali ini sungguh memuaskan. Semoga tahun depan diadakan
kunjungan ke tempat lain yang tidak kalah bagusnya dengan kedua tempat
tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar